Mediaberitapantau.online, Kabupaten Bekasi – Warga Desa Sukamekar yang karib di sapa Gimen (40) mengeluhkan sikap Pemerintah Desa Sukamekar yang seolah menutup mata dan telinga atas kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi beberapa waktu terakhir di wilayah Kp. Pangkalan RT.001/07 Kadus 2, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jabar.
Dari pertengahan sampai dengan akhir April 2024, menurut Gimen banyak sekali warga terjangkit penyakit yang disebabkan Nyamuk Aedes Aegypti ini.
“Salah satunya termasuk anak saya yang masih berusia 6 tahun yang terdiagnosa DBD, harus di rawat diruang ICU karena trombosit menurun drastis dan kondisi makin melemah,” ungkap Gimen pada keterangan persnya, Senin sore (6/5/2024).
” Seingat saya, saya tidak lalai. Ketika anak saya baru merasakan agak demam, saya sudah memeriksakan kondisi anak saya ke dokter. Namun dari hasil diagnosa dokter ternyata trombositnya melemah,” ujar Gimen
” Belum lagi beberapa warga lainnya yang juga harus dirawat di RS karena penyakit DBD tersebut. Selama saya menjaga anak saya di RS, kurang lebih ada 6-7 orang terdiagnosa DBD yang saya bantu urus berkas administrasi nya,” lanjut Gimen yang juga selaku Ketua Harian WN88 Sektor Sukawangi sekaligus Relawan Kesehatan RS.
Dari kejadian yang menimpa warga Desa Sukamekar khususnya dikadus 2, Gimen mengaku sudah menginformasikan hal tersebut melalui pesan singkat WAG yang dianggap lebih cepat menyerap berbagai informasi, apalagi sebagian anggotanya perangkat desa, tujuannya agar lekas ada tanggapan dan tindakan secepatnya.
” Misalnya Fogging (pengasapan) atau adakan kerja bakti / gotong royong yang tujuannya membersihkan tempat-tempat timbulnya jentik-jentik nyamuk yang sangat membahayakan tersebut,” harapnya.
Namun sampai putrinya dinyatakan sembuh dan sehat oleh pihak RS serta diperbolehkan pulang diakhir April 2024 lalu, Gimen menjelaskan tidak ada respon atau tindakan apapun dari pihak Pemdes.

“Baru dihari ini , Senin (6/5/2024) pkl. 16.00 wib, dilakukan Fogging, itupun mungkin, kata Gimen, setelah mengetahui adanya salah satu kerabat staff desa yang terjangkit DBD kemarin,” tandasnya.
” Sebenarnya tidak ada kata telat jika mereka (pemdes) memiliki jiwa kemanusiaan terhadap warga masyarakatnya. Kalau bisa dicegah kenapa tidak dicegah secepatnya sehingga tidak banyak masyarakat yang terjangkit??,” pungkas Gimen.
Sampai berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi yang akurat dari pihak pemerintahan desa. (Ay)







