Mediaberitapantau.web.id~ Tambun Utara, BEKASI – Dalam upaya mendukung program Ketahanan Pangan (Ketapang) di tingkat desa, Badan Usaha Milik Desa (BumDesa) Srikandi Srimahi, Desa Srimahi, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, mengembangkan usaha budidaya ayam petelur sebagai salah satu sumber pangan sekaligus upaya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Pantauan di lokasi kandang pada Rabu (11/3/2026), usaha budidaya tersebut saat ini mengelola sekitar 450 ekor ayam petelur dengan tingkat produksi mencapai 280 butir telur per hari atau sekitar 65 persen dari jumlah populasi ayam, yang sebagian besar dipasarkan kepada warga sekitar dengan harga lebih terjangkau dibanding harga pasaran.
Ketua BumDesa Srikandi Srimahi, Linda Safira, menjelaskan bahwa program budidaya ayam petelur tersebut mulai dijalankan sejak Agustus 2025 dengan jumlah awal sekitar 500 ekor ayam.
Namun pada tahap awal pemeliharaan, beberapa ekor ayam mengalami kendala karena masih dalam masa adaptasi setelah didatangkan dari luar daerah. Faktor perubahan cuaca, sirkulasi udara, hingga kondisi lingkungan sekitar kandang turut mempengaruhi kondisi ayam.
“Awalnya ada beberapa ayam yang terjepit kandang karena masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Ayam ini sensitif terhadap perubahan cuaca, suara, bahkan aktivitas di sekitar kandang,” ujar Linda.

Ia menjelaskan bahwa ayam petelur membutuhkan lingkungan yang relatif tenang agar tidak mengalami stres. Oleh karena itu, area kandang tidak diperbolehkan terlalu ramai dan harus dijaga dari kebisingan.
“Di dalam kandang tidak boleh banyak orang dan tidak boleh berisik. Bahkan petugas kandang saat memberi pakan dalam satu hari itu harus menggunakan baju dengan warna yang sama agar ayam tidak kaget dengan banyaknya warna yang dilihat ,” jelasnya.
Dalam operasional sehari-hari, pengelolaan kandang tersebut ditangani oleh satu orang petugas kandang (ABK) yang bertanggung jawab mengurus seluruh aktivitas pemeliharaan.
Setiap hari petugas memberikan pakan sekitar 55 kilogram yang dibagi dalam dua kali pemberian, yakni pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB dan sore hari. Selain itu, petugas juga mengganti air minum, memberikan vitamin, serta mengumpulkan telur hasil produksi pada sore hari.
Untuk menjaga kesehatan ayam, pengelola juga memberikan vaksin setiap satu bulan sekali dengan jenis NDIB, yang diracik bersama susu full cream UHT original.

Selain perawatan rutin, kenyamanan kandang juga menjadi perhatian pengelola. Kandang dilengkapi blower untuk menjaga sirkulasi udara dalam 1×24 jam, sementara lampu kandang dimatikan setiap pukul 21.00 WIB agar ayam dapat beristirahat dengan baik. Sementara area kandang juga telah dilengkapi CCTV untuk memantau kondisi dan aktivitas di dalam kandang.
Dari ratusan ayam yang dipelihara tersebut, produksi telur saat ini mencapai sekitar 280 butir per hari atau setara dengan sekitar 16 kilogram telur.
Menurut Linda, hasil produksi telur tersebut hampir selalu habis dibeli oleh warga sekitar maupun pelaku usaha mikro dan kecil.
“Setiap hari telur selalu habis dibeli warga. Bahkan kadang kami kewalahan karena permintaan cukup tinggi,” kata Linda.
Untuk membantu masyarakat, BumDesa menjual telur dengan harga mulai Rp26 ribu per kilogram, atau sedikit di bawah harga pasaran. Bahkan BumDesa tetap melayani pembelian dalam jumlah kecil oleh warga. “Kadang ada warga yang membeli Rp10 ribu juga tetap kami layani,” ujarnya.
Linda mengungkapkan, sebelumnya pihak dapur SPPG sekitar sempat menawarkan kerja sama untuk menyuplai telur. Namun tawaran tersebut belum dapat dipenuhi karena produksi telur saat ini dinilai masih belum mencukupi untuk kebutuhan dalam jumlah besar.
Untuk diketahui, dalam pengelolaannya BumDesa juga menghadapi beberapa kendala teknis. Salah satunya terkait penumpukan kotoran ayam (kohe) di area kandang.
Pada awalnya kohe dimanfaatkan oleh kelompok tanaman hias sebagai pupuk, namun dalam beberapa waktu terakhir pengambilannya mulai berkurang sehingga jumlahnya semakin menumpuk.
Selain itu, air minum ayam yang terkadang tumpah juga dapat menambah kelembapan kandang dan mempercepat penumpukan kotoran. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak BumDesa berencana membuat saluran pembuangan air minum menggunakan pipa agar kondisi kandang tetap terjaga.
Linda juga mengungkapkan bahwa ayam petelur sangat sensitif terhadap suara keras. Bahkan kebisingan seperti suara petasan dapat mempengaruhi produksi telur. “Pernah ada suara petasan yang cukup berisik, produksi telur langsung turun. Jadi memang harus benar-benar dijaga kenyamanannya,” ungkapnya.
Ke depan, BumDesa Srikandi Srimahi berencana menambah jumlah ayam petelur agar produksi meningkat sekaligus memperluas jaringan pemasaran.
“Harapan kami, warga Srimahi khususnya bisa menikmati telur dari hasil BumDes sendiri dengan harga lebih terjangkau. Jika ada keluhan dari warga terkait aktivitas kandang, kami juga terbuka untuk menerima masukan agar bisa segera ditindaklanjuti,” pungkas Linda. (AyuM)











